Monday, August 31, 2009

Native Deen - not afraid to stand alone


Lama membiarkan blog sepi..berhabuk sikit..maaf ye, hanya halwa telinga begini..saya kepenatan baru lepas pulang dari Kedah..syok nya..syoknya (nada mat kool) .. lagipun lagu ni best.memaparkan bagaimana muslimin di sana berjuang menjaga maruah agama dan diri.. dengan meyakini bahawa tiada apa yang perlu ditakutkan dan dirisaukan apabila merasakan Allah bersama..kadang-kadang bila kita punya kebebasan melakukan ibadah dengan penuh selesa kita jadi lalai kerana tidak riasau akan apa-apa gangguan di tempat kita hingga mengabaikan tanggungjawab seorang Muslim..namun apabila berada di satu tempat yang kita sukar untuk menjalankan ibadah barulah terasa betapa payahnya untuk beribadah seperti solat, menutup aurat, menjaga pergaulan.. di situ jugalah terasa berharganya nikmat kebebasan itu.. saudara-saudara kita di luar sana begitu menghargai nikmat iman dan islam, bagaimana pula kita? adakah bila ditimpa ujian kita menjadi semakin kuat dan tabah atau lemah dan hilang pegangan?

Baru-baru ini saya membaca majalah al-Islam.isu yang menarik mengenai Islam dan apakah kita sedar bagaimana keadaannya saudara-saudara kita di Uighur? Kenalkah kita akan mereka? Ditindas oleh pemerintah hinggakan mencampuri bab agama mereka.. apakah pemerintah itu faham akan Islam hingga meletakkan peraturan yang bukan-bukan? di manakah kebebasan beragama buat etnik Uighur? Mereka menderita di tanah kelahiran sendiri.. sekali lagi penindasan.. di barat dan di timur juga berlaku.. kadangkala apabila terlalu kerap dipampangkan berita mengenai penderitaan mereka kita menjadi biasa.. ala, selalu sangat baca..! selalu sangat tengok gambar macam ni..apa je boleh buat..?! Mudah-mudahan Allah memberi kelembutan pada hati kita agar penindasan umat Islam tetap menjadi sensitiviti kita..

Saya baru sahaja mencari lirik lagu ini..sebelum ni dah dengar tapi tak faham pun..hehe..

Native Deen adalah satu band america yang membawakan lagu-lagu islamik untuk hiburan anda..


I am not afraid to stand alone
I am not afraid to stand alone
If Allah is by my side
I am not afraid to stand alone
Everything is gonna be alright
I am not afraid to stand alone
Going keep my head up high

I am not afraid to stand alone
If Allah is by my side
Everything is going be alright
Going to keep my head up high

Single mother raising her children
And Now she's a Muslim
Started praying and wearing a headscarf
It Was a healing for her heart



Struggling with no one to lean on
But with prayer she would be strong
Had a job but then she was laid off
Got a better education and it paid off

She was called for a job that she dreamed of
Close by, great pay -she was in love --
They brought her in -- told her shes the 1 pick
You got the job, but you gotta lose the outfit"

It's a tough position that you put me in
Cause look at my condition, and my two children
But I'll continue looking for a job again
Cause my faith and my religion I will never bend

I am not afraid to stand alone
I am not afraid to stand alone
If Allah is by my side
I am not afraid to stand alone
Everything is gonna be alright
I am not afraid to stand alone
Going keep my head up high

I am not afraid to stand alone
If Allah is by my side
Everything is going be alright
Going to keep my head up high

Peer pressure, they were insisting
And I was resisting
Some days.... I felt I would give in
Just wanted to fit in

I know.....when I'm praying and fasting'
They be teasing and laughing
So I called to my Lord for the power
For the strength every day, every hour...

one day there's a new Muslim teacher
Single mom and the people respect her
Just seeing.... her strength I get stronger
They can break my will no longer

You don't see me sweatin' when they're jokes cracking
Never see me cussing' with my pants saggin'
I aint never running Yo Im still standing,
sorry I aint jumping on your band wagon, cause...

I am not afraid to stand alone
I am not afraid to stand alone
If Allah is by my side
I am not afraid to stand alone
Everything is gonna be alright
I am not afraid to stand alone
Going keep my head up high

I am not afraid to stand alone
If Allah is by my side
Everything is going be alright
Going to keep my head up high

Now, I'm a tough one, who can bear their blows
The rest play dumb, they don't dare say no
Scared of being shunned, but its clear they know
I aint never gonna run, I aint scared no more....

Man, these sisters be resolute
Never stressed when the rest say they wasn't cute
And the get the respect of the other youth
Come best with the dress yo and thats the truth

These sisters are strong gonna hand it down
So me Im a brotha gotta stand my ground
No fear, Im tough Im the man in town
Peer pressure no more, its my planet now

Others may fall, but Im hold my own
With Allahs help I'll be strong as stone
And I'll be the one to let Al Islam be shown
Cause I am not afraid yo to stand alone

I am not afraid to stand alone
I am not afraid to stand alone
If Allah is by my side
I am not afraid to stand alone
Everything is gonna be alright
I am not afraid to stand alone
Going keep my head up high

I am not afraid to stand alone
If Allah is by my side
Everything is going be alright
Going to keep my head up high

Friday, August 28, 2009

Tell Me Why? Anyone???


..Tell Me Why..

In my dreams, Children sing
A song of love for every boy and girl
The sky is blue, the fields are green
And laughter is the language of the world
Then I wake and all I see is a world full of people in need
Tell me why,(why) does it have to be like this
Tell me why, (why) is there something I have missed
Tell me why, (why) cause I don’t understand
When so many need somebody
We don’t give a helping hand
Tell me why
Every day, I ask myself
what will I have to do to be a man
Do I have, to stand and fight
To prove to everybody who I am
Is that what my life is for?
To waste in a world full of war
Tell me why (Why why, does the tigers run?)
Tell me why (Why why, do we shoot the gun?)
Tell me why (Why why, do we never learn?)
Can someone tell us why we let the forests burn
(why why do we say we can?) tell me why
(why why is it still the same?) tell me why
(why why do we talk and run?) tell me why
can someone tell us why we let the ocean die
(why why do we always say?) tell me why
(why why do we pass the blame?) tell me why
(why why does it never rain?)
can someone tell us why we cannot just be friends
(why why do we close our eyes?)
(why why do we really lie?)
(why why do we fight for land?)
can someone tell us why cause we don’t understand
why why?

Tuesday, August 25, 2009

Macam mana puasa?

Salam...

Alhamdulillah sudah menginjak 5 Ramadhan sekarang.. Sekejap sahaja memasuki bulan ramadhan dan mungkin juga kita tak perasan sekejap sahaja bulan mulia ini berakhir.. moga puasa kita bukan yang sia-sia sebagaimana dalam hadith yang diriwayatkan oleh Khuzaimah dan Thabrani menyebut;

"Berapa banyak orang yang berpuasa, namun yang diperolehnya dari puasanya itu hanyalah lapar dan dahaga sahaja".

Bulan Ramadhan juga indah apabila saya merasai sendiri bagaimana mereka di sekeliling saya menahan lapar dahaga.. ada yang mengantuk dalam kelas (tak puasa pun ngnatuk juga, bukan salah puasa ye!).. ada yang terpaksa pura-pura puasa (kes khas).. ada yang tak tahan sebab tidak bersahur (malas bangun sahur) dan macam-macam gelagat.. puasa bukan setakat menahan lapar dahaga namun menjaga pancaindera.. teringat petang tadi gelagat rakan-rakan.. sesuka hati mengata orang.. sudah-sudah la tu tak nak kongsi dosa dengar kata-kata korang tu..

Nanti la sambung lagi celoteh puasa nie..ada kerja..

Wslm.

Saturday, August 22, 2009

Lagu pilihan terbaru..namun jadikan alunan Quran tetap pilihan utama anda!


Menjadi Diriku
Album :
Munsyid : EdCoustic
http://liriknasyid.com

Tak seperti bintang di langit
Tak seperti indah pelangi
Karena diriku bukanlah mereka
Ku apa adanya

Dan wajahku memang begini
Sikapku jelas tak sempurna
Ku akui ku bukanlah mereka
Ku apa adanya

*)
Menjadi diriku
Dengan segala kekurangan
Menjadi diriku
Atas kelebihanku.......

Terimalah aku
Seperti apa adanya
Aku hanya insan biasa
Ku pun tak sempurna

Tetap ku bangga
Atas apa yang ku punya
Setiap waktu ku nikmati
Anugerah hidup yang ku miliki

Back to *)
Pengirim : Zainal Abidin
** Edcoustic adalah kumpulan nasyid dari Bandung, Indonesia

Friday, August 21, 2009

Pertandingan Gerbang Cinta

Semalam saya membelek akhbar Utusan Malaysia di pejabat fakulti, tiba-tiba pandangan mata tersorot pada satu imej. Gambar pengantin sedang ditepung tawar. Hati ingin mengetahui lebih lanjut terus ke muka surat 8 tanpa lengah lagi. Panjang pula berita ini dilaporkan. Isteri TPM merasmikan pertandingan gerbang cinta yang menawarkan hadiah bernilai sehingga RM30,000. Wow! Terkejut dan terkesima sebentar.. lantas saya khabarkan kepada kawan saya yang saya selesa panggil sebagai Kak Ana.

"Kak Ana cuba tengok ni, bestnya dapat tajaan kahwin..wah..untuk 10 pemenang..", sambil mata melirik ke point yang penting..

"Senang je kumpul masterhead Utusan ni sampai 20 Oktober..boleh lah ni..", saya memancing minat Kak Ana.

"Ha'ah la..nak masuk la..nanti beritahu dia.."

Tengahari itu juga Kak Ana sudah berpakat dengan 'teman'nya untuk masuk pertandingan yang best ni.. hurm..berbunga harapan nampaknya.. yela, berusaha juga sebolehnya tidak mahu melengahkan hubungan yang terbina sekian lama.. bimbang juga hati itu..

Ada juga saya mengesyorkan seorang kawan masuk pertandingan itu..( i like to promote..)
Mungkin merasa hatinya tak terbuka lagi lantas respon diterima adalah negatif. Hampa sikit...

Lewat petang teman Kak Ana menelefonnya..

"Dah baca sampai habis ke?", Kak Ana keliru sebentar dengan pertanyaannya..

"Cuba tengok Mega jap.." lantas segera meneliti. Rupanya ada borang di situ..

Akhirnya, sedihnya tak dapat masuk!


Syarat: hendaklah sudah bertunang..(belum lagi la, mana sempat kak!)

Saya tidak sangka harapan Kak Ana agak tinggi hingga beliau sedih sekali.. dia pesan pada saya dengan gurauan.. "jangan langkah bendul, bagi kita (saya) jalan dulu..."

Kelakar juga bila ingat balik, malu pun ada juga..semangat dah ada tapi silapnya info tak baca habis..aiya, bikin malu da.. bertunang tu yang tak lepas lagi macam mana nak masuk..

Sabarlah Kak Ana.. bukan rezeki Kak Ana lagi, mungkin belum masanya lagi..soal jodoh ni bila masa, pasangan, tempat dan keadaannya yang memang sudah ditetapkan Allah sampai mudahlah segala urusan kita.. insya Allah..

Malam tu pula saya promosi lagi pada sepupu saya yang sudah bertunang..


Respon dia,
" aku tak reti la buat slogan ni, ko buatkan la.."
" eh, mana boleh..orang tak bertunang lagi..mana reti soal nak mencurahkan idea camni..", mengelak sebenarnya...siapa yang berusaha dia la yang rasa hasilnya..

Malam tu juga promosi pada kawan saya.. "tak nak la, baik kerja cari duit..guna duit sendiri..dunia je semua tue.." saya tahu la kamu tu nak yang simple je..Nak baca lebih lanjut apa kata orang lain pula, baca di sini..[klik]
Sumber dipetik daripada Utusan Malaysia..

Terbaca..."Dialah Bakal Pemimpin Aku Dan Aku Memilihnya"

Salam..maaf ye entri saya bukan penulisan sendiri..cuma ingin berkongsi pembacaan saya..

Akhir kalam, selamat menunaikan ibadah puasa esok..mudah-mudahan ia menjadi medan latihan untuk memupuk istiqamah dengan amalan soleh.. nafsu untuk dididik bukan dilawan dan dimatikan..(kata-kata seseorang)

Sememangnya saya suka sesuatu info disampaikan dalam bentuk cerita, mudah menghayati dan memahaminya.. mungkin boleh juga menjadi biblio therapy..

transmission ends******

sumber dari http://cintailahialways.ning.com/profiles/blogs/dialah-bakal-pemimpin-aku-dan yang bersumberkan http://muslimnetwork.wordpress.com

(Petikan daripada sebuah cerita)

Di pagi yang nyaman, aku segar melihat keindahan yang semula jadi daripada jendelaku. Jendelaku yang menghadap ke kawasan lapang tidak memperlihatkan kelibat manusia. Inilah waktu yang tepat untuk aku berhadapan dengan Yang Maha Pecipta keindahan ini. Aku mengambil wudhu’, kemudian masuk ke bilik aku semula. Aku atur elok-elok kain sajadahku. Aku memulakan solat dhuha dengan bisikan takbir. “Allahu akbar”.
Tidak pernah aku berasa nikmat yang lebih indah selain berhadapan dengan Al-Khalik tanda bersyukur atas “hadiah” yang diberikanNya. Hadiah yang berbentuk keindahan, keharmonian, dan ketenangan yang diberikanNya kepada hambaNya. Tidak cukup rasanya kalau aku hanya melakukan amalan yang wajib dan meninggalkan perkara yang dilarangNya, kerana amalan yang wajib itu hanya melahirkan rasa abdiku kepadaNya, bukan rasa kecintaanku kepadaNya. Tidak ada cinta yang lebih indah berbanding cinta yang hakiki, yakni mencintai Allah s.w.t. Yang Maha Agung. Dengan itu aku berusaha menambah amalanku dengan amalan-amalan sunat dan meninggalkan segala yang makhruh, yang pasti, perkara wajib aku wajib laksanakan. Ya Allah, alhamdulillah, aku merasai cintaMu. Kelopak mataku dilinangi air jernih yang mengaburkan pandangan aku ketika itu.

Aku selesai menunaikan solat dhuha, alhamdulillah. Aku mencari bahan bacaan di sudut atas mejaku. Ingin sekali aku membaca semula buku “Satu Rasa Dua Hati” yang ditulis oleh Ustaz Pahrol Muhammad Juoi. Buku yang berguna bagiku untuk dijadikan panduan dalam mengurus rumahtangga di masa hadapan. Memang, aku akan menempuhi kehidupan berumahtangga juga suatu hari nanti, insya’ Allah. Aku akan menjadi isteri kepada suami, penolong ketua keluarga, dan ibu kepada anak-anak aku. Aku tiada ilmu rumahtangga, tetapi inilah usaha yang dapat aku lakukan, dengan membeli bahan-bahan bacaan yang berkaitan dengan kekeluargaan. Cita-citaku ingin menjadi isteri yang baik kepada suami, juga terhadap tetangga suami, dan terhadap saudara mara suami. Apatah lagi pada anak-anak aku, aku ingin menjadi ibu yang terbaik buat mereka. Tapi bagaimana? Aku telah membaca buku ini, alhamdulillah, banyak input yang berguna yang telah aku peroleh.

Meletakkan segala-galanya pada Yang Maha Penyayang merupakan kunci kebahagian keluarga. Dialah yang memberi “hadiah” maka nanti akan aku hargai hadiah itu, dan yang pasti, si Pemberi hadiah lebih aku hargai. Akan aku jaga, lindungi, kasihi, sayangi, dan mencintai hadiah itu nanti akan menunjukkan bahawa aku sungguh menghargai si pemberi hadiah. Sesungguhnya, dengan lahirnya cinta itu nanti, maka akan lahirlah rasa mahu bertanggungjawab pada diri aku untuk menjaga, melindungi, dan sebagainya. Dengan cinta itu juga mampu untuk aku menambah rasa malu pada suamiku. Malu pada suamiku? sudah jadi suami masih mahu berasa malu? Inilah perkara yang aku sangat takut jika tidak mampu melakukannya nanti. Aku mengidamkan perasaan malu sepanjang hidup bersama suamiku nanti sama seperti aku malu ketika baru berkenalan di awal perkahwinan. Aku sungguh takut untuk tidak berasa malu. Aku takut sekiranya aku menjadi isteri yang malu tidak bertempat. Di dalam rumah tidak berhias untuk suami, di luar rumah baru aku mahu berhias. Di dalam rumah aku seperti biasa, di luar semerbak kasturi, itu aku tidak mahu. Tetapi aku yakin dengan kecintaan yang sebenarnya kepada Maha Pencipta, aku akan berjaya mengekalkan rasa malu aku sama seperti aku malu ketika baru mula berkenalan dengan suamiku nanti. Dengan wujudnya iman maka terdoronglah untuk aku berasa malu, dan terdorong pula aku untuk mencintai Maha Pencipta, dan dengan cintaku terhadapNya, maka aku akan ikhlas dalam melakukan semuanya, aku tidak akan berharap apa-apa balasan dari suamiku (atas kebaikan aku padanya), sebaliknya aku menyerahkan segala hikmah hanya pada Yang Maha Esa.

Tengoklah nanti, aku akan “jual mahal” terhadap suamiku, bisik hatiku sambil tergelak tetapi senyap. Ya Allah, bilalah agaknya aku mendirikan rumah tangga? Aku tertanya-tanya sambil tersenyum sedih meminta simpati kepada Yang Maha Mengasihani. Hanya Dia yang sangat memahami hatiku. Ingin sekali aku menikmati kebahagian berumah tangga sekarang. Oh indahnya hidup berumahtangga. Ada suami, ada anak-anak, ada macam-macam, oh indahnya. Bayi? Ya Allah, teringinnya hambaMu ini untuk menimang cahaya mata, teriak hatiku memohon simpati dengan tersenyum.

Sudah cukupkah ilmuku untuk berumahtangga? sudah cukupkah apa yang aku ada sekarang? Itu persoalan yang selalu bermain di fikiranku. Tapi kenapa aku tidak memikirkan langsung tentang diriku yang masih belajar, maksudku belum tamat pengajian. Betul, aku tidak kisah semua itu, kerana itu bukan soal pokok jika hendak mendirikan rumahtangga. Tapi kenapa aku ingin sekali untuk berumahtangga di usia muda begini? Adakah mungkin kerana aku banyak membaca buku hal ehwal rumah tangga? Aku anggap bukan soal itu, hal ini kerana sebelum aku mula membeli buku-buku tersebut, aku sudah ada keinginan untuk berumahtangga. Jadi kenapa? Mungkinkah sesetengah orang memang ditakdirkan untuk mempunyai keinginan seperti ini? Mungkin juga. Tapi mungkin jawapan ini lebih sesuai untuk aku, iaitu kerana aku tahu kelebihan-kelebihan orang yang telah berumahtangga berbanding dengan yang sebaliknya. Apatah lagi kelebihan itu sangat ketara bagi pasangan yang berusia muda begini, dan masih dalam pengajian!
Tapi tidak mudah untuk melakukannya juga tidak mudah untuk menggapai kebahagiaan, kerana mesti ada pengorbanan besar yang perlu dilakukan. Pengorbanan yang mula-mula ialah pengobanan berjihad memperbaiki diri sebelum kahwin, dan seterusnya pengorbanan itu diteruskan selepas berkahwin. Kebahagiaan itu Allah s.w.t. yang kurniakan, maka, syarat yang aku tahu untuk bahagia ialah mengutamakan Allah s.w.t. dalam setiap urusan keluarga. Mentaati suami juga perintah Allah s.w.t., jika ia dilakukan kerana Allah s.w.t., maka mentaati suami akan dikira mengutamakan Allah s.w.t.

Suami? Siapa nanti yang akan menjadi suamiku. Insan yang akan menemani aku di dunia ini dan di akhirat nanti, alam akhirat yang tiada penghujung harinya! Bermaksud, kehidupan yang kekal selama-lamanya! Siapakah insan yang bakal memimpin aku nanti? siapakah insan yang terpilih itu nanti? Dia yang memimpin aku untuk mencintai Allah s.w.t., dia yang memimpin aku untuk menyuburkan aqidah dalam keluarga nanti, dia yang memimpin aku untuk menegakkan syariat dalam keluarga nanti, dia yang memimpin aku untuk membudayakan akhlak dalam keluarga nanti. Ya Allah, kurniakanlah hambaMu ini suami yang bertakwa, iaitu sekiranya dia membenciku, dia tidak akan menyakiti aku, dan sekiranya dia suka pada aku, maka dia menyukai aku keranaMu sahaja. Dialah pemimpin sejati dalam hidupku, subhanAllah!

Aku membelik-belik buku tadi mencari bahagian yang menarik untuk aku baca. Oh, ini tajuk yang aku pernah berasa teruja membacanya, “Wanita Meminang Lelaki? Bukan Sekadar Perigi Mencari Timba”. Salah satu tajuk favourite yang sangat aku ambil perhatian dalam buku ustaz Pahrol Muhammad Juoi ini. Tajuk yang aku rasa sebagai tajuk permulaan sebelum melangkah ke tajuk-tajuk yang lain. Atau dalam erti kata yang lain, perkara yang aku harus lalui sebelum aku melalui perkara-perkara yang lain(yang dibincangkan dalam tajuk yang lain) Pagi yang sangat memberi semangat untuk aku membaca semula bahagian ini buat kali ketiga, dengan izin Allah s.w.t. Bismillahirrahmanirrahim.

BAB 2 WANITA MEMINANG LELAKI?
“Eratkan dirimu dengan manusia untuk mengetahui masalah mereka, eratkan dirimu dengan Allah s.w.t. untuk membantu mereka menyelesaikannya!”

Usah Malu Dengan Usaha Yang Mulia

Selalunya lelaki yang harus memulakan dahulu. Pihak lelaki yang merisik khabar, kemudian jika isyarat “lampu hijau” diberikan, maka menyusullah rombongan peminangan. Lelaki meminang wanita. Bagaimana jika sebaliknya, pihak wanita pula yang merisik khabar, kemudian menghantar rombongan meminang? Wanita meminang lelaki. Ah, janggal. Tidak pernah dibuat orang. Begitulah sempitnya adat berbanding keluasan syariat. Justeru dalam sejarah Islam, pihak wanita meminang lelaki adalah sesuatu yang lumrah.

Siti Khadijah meminang Rasulullah. Sayidina Umar pernah “meminang” Sayidina Abu Bakar untuk puterinya Siti Habsah (tetapi Siti Habsah kemudiannya menjadi isteri Rasulullah SAW). Pada zaman kegemilangan Islam, kedua-dua cara dipraktikkan. Sama ada wanita melamar lelaki atau lelaki melamar wanita. Tidak ada istilah perigi cari timba seperti yang diungkapkan oleh adat atau budaya masyarakat hari ini. Kebenaran kerap kali nampak janggal (untuk dimulakan) sebab ia bertentangan dengan budaya. Tetapi kita perlukan keberanian untuk melakukan anjakan paradigma, seterusnya perubahan sikap… biarpun terpaksa menanggung risiko dituduh tidak tahu malu!

Perlu diingat kekadang adat dan syariat boleh diselaraskan. Namun adakalanya adat bertentangan dengan syariat. Maka pada ketika itu hendaklah diutamakan syariat kerana adat hanya berasal daripada pemikiran dan perasaan manusia manakala syariat bersumberkan wahyu Ilahi. Adat relatif sifatnya – boleh berubah mengikut zaman dan perubahan minda manusia. Tetapi syariat bersifat mutlak, tetap relevan dan signifikan sampai bila-bila.

Tidak dinafikan kekadang adat bersumberkan ajaran agama. Namun apabila selera nafsu dan kecelaruan fikiran berlaku, sering syariat menjadi mangsa pengubahsuaian yang mencemarkan kesuciannya. Adat “membatalkan air sembahyang”, kenduri walimah secara keterlaluan (hingga menyebabkan pembaziran dan sikap menunjuk-nunjuk), mas kahawin yang berjumlah beribu-ribu ringgit, adalah antara contoh bagaimana sesuatu yang mulanya berasalkan kehendak syariat telah bertukar menjadi kehendak nafsu. Sering berlaku, yang sunat dianggap seperti wajib. Manakala yang wajib pula dianggap remeh dan dipinggirkan.

kepada ibu bapa pihak wanita, malah wanita itu sendiri, jangan takut untuk merubah budaya. Kita mesti berani melawan arus. Hubungan Allah s.w.t. dan sesama manusia saling berkaitan. Marilah kita jaga hubungan kita dengan Allah s.w.t., untuk mendapat kekuatan menyelesaikan masalah manusia. Kita tidak boleh lagi terikat dengan cara-cara konvensional sahaja untuk menyelesaikan masalah ummah. Oleh itu, jika ada seorang lelaki yang anda percayai layak menjadi calon suami yang soleh, ambillah tindakan untuk mula merisik dan melamarnya. Jika diterima, alhamdulillah. Jika ditolak, tidak mengapa. Usah berasa malu kerana anda bukan melakukan sesuatu yang salah dan haram di sisi agama.

Sekalipun ditolak, pihak wanita atau wanita itu sendiri sebenarnya telah melakukan satu usaha yang mulia malah mengikuti jejak langkah Sayidina Umar yang menawarkan puterinya untuk Sayidina Abu Bakar. Bukankah pinangan Umar juga ditolak dengan baik oleh Sayidina Abu Bakar? Namun kemudiannya Umar mendapat calon yang lebih baik apabila Rasulullah sendiri sudi memperisterikan Siti Habsah. Jadi bagaimana dengan anda? Tidak mustahil natijah yang sama mungkin anda alami… insya’ Allah s.w.t., Allah s.w.t. tidak akan mengecewakan para hamba yang komited mengikut syariatNya.

Usah berasa malu untuk menjadi “perigi” yang mencari “timba”. Malu yang sedemikian tidak kena pada tempat dan perkaranya. Sayang sekali, kekadang malu kita tidak merujuk kepada syariat. Ketika ramai kaum wanita tidak malu mendedahkan aurat, bergaul bebas dan melakukan perkara-perkara yang diharamkan oleh syariat… apakah anda harus berasa malu mengikut syariat dan menyusuri langkah-langkah para salafussoleh untuk mendapatkan jodoh terbaik untuk anda?

Bukan Sekadar Perigi Cari Timba

“Kekadang bimbang juga memikirkan, bagaimana agaknya nak menentukan jodoh anak kita nanti?” Luah saya kepada isteri.

“lambat lagi bang, anak kita baru di tahun pertama… ikut kebiasaannya ada tiga atau empat tuhun lagi,” pintas isteri saya, mententeramkan.

“tapi soal jodoh ni tak tentu. Sering juga… tup, tup jadi! Macam kita dulu,” usik saya.

Kami bernikah sewaktu saya masih belajar – pada tahun kedua pengajian. Isteri saya tersenyum. Jelas “mesej” usikan saya mula menerjah hatinya.

“macam mana kalau kita mula amalkan prinsip “perigi cari timba”?” cadang saya.

“eh, malulah. Nanti orang kata anak kita tak laku,” jawabnya. Dia memang begitu. mesti ada kontranya. Tapi ini sudah dikira macam mesyuarat. – pasti ada “give and take”nya.

“balik-balik apa orang kata… mulai sekarang cuba kita buat anjakan paradigma – apa tuhan kata. Tuhan kita hanya satu, mudah kita nak patuh. Kalau manusia kan beribu… mana satu yang kita nak dengar dan ikut?” balas saya.

“tapi dalam masyarakat, kalau dapat jaga kedua-duanya sekali, kan baik?”

“masyarakat boleh berubah. Kita kena ubah persepsi mereka dengan apa yang ditentukan oleh Tuhan. Insya’ Allah s.w.t., lama-kelamaan tak ada konflik lagi antara prinsip agama dan budaya masyarakat.”

“dah mulalah tu… kita fikir kecil, dia dah mula melarat ke persoalan yang besar. Takut tak faham saya,” usiknya.

“macam nilah, perigi cari timba… memang suatu yang luar biasa. Biasanya timba yang cari perigi. Itu biasa. Tetapi sesuatu yang dah biasa tak semestinya sentiasa betul dan tidak boleh diubah. Dan sesuatu yang “luar biasa” bukan semestinya tak betul. Sekurang-kurangnya ia boleh dicuba,” jelas saya.

“maksud abang?”

“budaya hanya berasaskan sistem nilai yang selama ni diamalkan secara berterusan. Ia tidak selama-lamanya relevan…”

“apa yang lebih relevan?”

“syariat. Hukum daripada Tuhan. Ia sesuatu yang mutlak… relevan sampai bila-bila.”

“kaitannya dalam soal ini?”

Nampaknya isteri saya mula terpancing dalam “persoalan” besar ketika membincangkan soal kecil. Namun saya rasa itu perlu, kerana kita perlu kembali ke akar sesuatu persoalan bukan sekadar berlegar-legar di ranting dan dahannya sahaja.

“dalam soal meminang ini, Islam tidak menetapkan siapa yang harus memulakan dahulu… timba cari perigi ke atau perigi cari timba. Yang mana pun boleh asalkan prinsip peminangan itu menepati syariat.”

“maksudnya?”

“boleh sahaja perempuan meminang lelaki. Seperti Siti Khadijah meminang Nabi. Sayidina Umar juga pernah meminang Sayidina Abu Bakar dan Sayidina Usman untuk dijodohkan dengan anaknya. Dan boleh juga lelaki meminang wanita seperti Abul Ash pernah melamar Zainab puteri Nabi Muhammad…”

“ertinya, kedua-dua cara okeylah. Perigi cari timba, atau timba cari perigi… sayang, selama ni kita cuma amalkan satu cara sahaja.”

“kenapa satu cara? Sebab malu dikatakan orang anak kita tak laku?” usik saya lagi.

“bukan malu tu sahaja… tetapi bagi anak perempuan juga ada rasa malunya. Malu nak buka mulut, apalagi nak mula langkah melamar lelaki… isy, saya pun malu.”

“malu tu sesuai dengan syariat tak? Kalau syariat membenarkan kenapa harus malu. Benar-benarkah malu kita tu memang patut malu, atau malu tak bertempat?”

“kenapa abang kata begitu?”

“sebab, banyak lagi perkara yang mesti malah wajib dimalukan tetapi wanita kita dah tak malu lagi. Sepatutnya wanita kita malu berpeleseran, malu mendedahkan aurat, malu bergaul bebas, malu melakukan aksi-aksi tidak bermoral di khalayak ramai… itu sepatutnya dimalukan. Bukan malu nak melamar lelaki.”

“tapi, macam mananya?”

“lamarlah secara terhomat. Melalui perantara. Menerusi situasi dan kondusi yang terpelihara. Eh, tak susahlah. Susah lagi nak mendedahkan aurat, bergaul bebas dan lakukan aksi tak bermoral tu… malukah Siti Khadijah ketika melamar Rasulullah?”

“betul kata abang, susahnya sebab luar biasa…”

“perkara yang biasa asalnya pun luar biasa juga. Kena dilakukan dengan niat membaiki keadaan. Yang timba cari perigi boleh diteruskan, yang perigi cari timba kena mulakan!”

“apa halangannya?”

“halangan ilmu. halangan budaya. halangan dalaman-syaitan dan nafsu.”

“jadi kita perlu sampaikan ilmu, kemudian berani merentas budayalah ya?”

“bermula dengan melawan syaitan dan nafsu. Syaitan ingin menyempitkan jalan kebaikan dengan meluaskan jalan kejahatan. Nafsu pula menghasut kepada yang buruk dengan menserabutkan yang baik.”

“tetapi tidak ke lelaki rasa hebat sangat, perempuan yang melamar dia? Macam low class sangat perempuan ni. Macam takut sangat jadi Andalusia…”

“tinggi atau rendah martabat diukur pada nilaian Tuhan, bukan rasa-rasa kita. Tidak hina mengikut syariatNya. Bila meminang lelaki itu diharuskan, maka itu pastinya tidak akan merendahkan martabat wanita. Dan kita kena yakin bahawa hinanya kaum wanita mahupun lelaki kerana melanggar syariat.”

“jadi nantinya lelakilah yang letakkan harga hantaran, belanja hangusnya?”

“itu tidak termasuk dalam prinsip Islam. Yang wajib hanya mas kahwin. Itu tetap dari lelaki untuk wanita. Yang wajib akad nikah… walimah, kenduri-kendara itu sunat sahaja. Jadi pandai-pandailah berunding bila lelaki dah terima lamaran wanita.”

“pelik ya bang…rasa macam aneh pulak.”

“sebab dah banyak amalan dalam budaya kita yang tidak tepat mengikut ukuran syariat. Yang wajib, dipandang remeh. Yang harus, macam wajib. Yang haram dianggap penting. Yang sunat, dilupakan. Kita kena ubah semua tu, walaupun kekadang dipandang serong pada awalnya.”

“susah, kalau orang tak faham…”

“sebab tu kita kena sampai-sampaikan. Sampaikan apa yang benar. Kemudian cuba jadi role-model kepada apa yang kita sampaikan tu. kan aneh, dulu kita kahwin tanpa bercinta?” ujar saya.

Dia senyum lagi.

“jadi apa yang abang bimbangkan lagi?”

“siapa agaknya yang akan kita lamar nanti…”

“itu tugas kita ke, anak perempuan kita?”

“itulah… takut kita ada calon, dia ada calon…”

“apa susahnya, kita berundinglah nanti.”

Seperti biasa, dia menenangkan.

“entah-entah masih timba cari perigi?” usik isteri saya.

“terpulanglah, kita tawakkal sahajalah. Yang penting, kita didik anak kita baik-baik. Mudah-mudahan dapat suami yang soleh… walau apa jua kaedah pertemuannya.”

Itulah persoalan terasnya. Siapa anak perempuan kita, solehkah dia? Siapa calon menantu kita, solehkah dia?

Soal “perigi cari timba”? itu soal kedua, soal kaedah sahaja…

Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Anas r.a.:

Ada seorang wanita yang datang menawarkan diri kepada Rasulullah SAW

Dan berkata: “ya Rasulullah! Apakah baginda memerlukan daku?” Puteri Anas yang hadir ketika mendengar perkataan wanita itu mencelanya dengan mengatakan dia tidak punya harga diri dan rasa malu. “sungguh memalukan dan betapa buruknya…!” Anas berkata kepada puterinya itu: “dia lebih baik daripada mu nak! wanita itu senang kepada Nabi SAW dan menawarkan dirinya!”

(riwayat Bukhari)

Sepintas Lalu,

- dalam soal meminang, Islam tidak menetapkan siapa yang harus memulakan dulu asalkan prinsip peminangan itu menepati syariat.

- Kenapa harus malu jika syariat membenarkan. Malu biar bertempat.

- Lamar secara terhormat, melalui perantara, menerusi situasi dan kondisi yang terpelihara.

- Halangan ilmu, halangan budaya dan halangan dalaman-syaitan dan hawa nafsu.

Aku menutup buku lalu aku letakkan di tempat asalnya tadi. Aku termenung jauh entah ke mana selepas membaca bahagian itu tadi. Kadang-kadang aku terfikir, adakah diriku ini layak untuk menjadi pendamping lelaki soleh? Pokoknya sekarang aku ingin memilih sendiri pemimpin aku. Aku yang bakal menentukan siapa. Bolehkah begitu? Allah s.w.t. yang menentukan! Bukan aku! Aku hanya mampu merancang, jika benar sudah ada seseorang di hatiku ketika ini, aku tidak akan terus memilih dia secara melulu. Aku akan serahkan kepada Allah s.w.t. untuk menentukannya. Salah satu usaha yang aku boleh buat ialah melakukan solat sunat istiqarah, insya’ Allah.

Kadang-kadang aku risau tentang diri ini, tiada siapa yang menegur aku apabila aku melakukan kesilapan, tiada siapa yang mengingati aku apabila aku terlalai daripada mengingati Allah s.w.t. dan tiada siapa yang mengambil berat tentang apa yang aku lakukan itu betul atau kurang betul daripada kaca mata Islam. Aku berasa tidak lengkap. Benar, aku memerlukan seorang pemimpin yang akan memimpin aku dalam semua perkara, yang merawat aku apabila aku sakit, yang melindungi aku apabila aku memerlukan perlindungan, dan yang akan bersama aku, malah aku yang bersama dia dalam menegakkan Islam! Oh, aku terlampau menginginkan semua itu. Tidak cukupkah ibu bapaku yang mengambil semua peranan itu buat masa ini? Juga sahabat-sahabat wanita aku? Apa benar aku perlu suami untuk memperoleh semua itu? Buat masa sekarang?

Membaca buku Ustaz Pahrol itu tadi memang membuatkan diri aku berasa lebih bersemangat untuk terus mengekalkan hasratku. Malunya jika orang lain tahu, apatah lagi adik-beradikku. Tapi apa yang hendak dimalukan, malah patut berbangga kerana dalam buku yang aku baca sebentar tadi sudah terangkan dengan jelas.

Cuaca pagi yang sungguh nyaman, ingin rasanya aku turun ke bawah melihat keindahan alam dari sudut yang berbeza. Aku mengambil tudung aku yang berwarna kuning cair di dalam almari lalu memakainya.

1Abah (bapa) tengah duduk di atas bangku di sebelah pokok. Nampaknya abah tidak melakukan apa-apa pekerjaan selain membaca surat khabar di rumah tadi. Kenapa aku berasa bahawa ini suatu waktu yang sangat berharga? Apa yang ingin aku lakukan? Seolah-olah hatiku mengatakan aku tidak boleh melepaskan peluang ini. Tetapi apa yang bakal aku lakukan? Aku mendekati abah.
“Assalamualaikum abah.”

“Waalaikumussalam, kenapa senyum-senyum manis ini?” Usik abah macam tahu-tahu sahaja. Aku terdiam

“Abah sedang buat apa?” Aku cuba memulakan bicara kecil sebelum memulakan bicara besar.

“Tidak ada apa, ayah mahu rehat sekejap di bawah ini, boring (bored) di atas itu tidak ada apa pun mahu dibuat, baca surat khabar tidak ada pula tajuk menarik.” Jelas abah sambil merenung aku diakhir katanya.

“Nurul mahu cakap sesuatu dengan abah ya?” Tanya abah seperti sudah tahu tujuan aku menghampirinya.

“Abah, saya nak tanya, abah rasa, sudah berapa pasangan yang abah nikahkan?” Soalan yang begitu mudah difahami motif pertanyaannya, apatah lagi abah yang sangat berpengalaman. Tapi pengalaman abah itulah yang aku perlukan untuk berbual tentang hal ini. Abah merupakan seorang imam di sebuah masjid di kampung kami, dan naib kadi juga. jadi, memang abah berpengalaman.

“Abah pun tidak tahu, abah kurang pasti, kenapa tanya soalan ini?” Lirih abah sambil tersenyum mengusik.

“Saya tanya saja, mesti abah banyak pengalaman dalam menikahkan orang kan? Ada peristiwa lucu atau tidak? seperti bakal suami yang mengulangi lafaz nikah banyak kali barangkali.” Aku cuba mula menceriakan lagi keadaan.

“Memang ada, sungguh ramai. Nurul beritahu abah, apa sebenarnya Nurul mahu cakap?” Abah tidak menjawab panjang soalanku dengan baik, seolah-olah tahu aku ada hal yang lebih penting untuk diberitahu berbanding soalanku tadi.

Aku memberanikan diri, dalam hatiku berdoa, “ya Allah s.w.t., permudahkanlah urusanku”. Aku membaca bismillah dalam hati. Abah sedang memerhatikan aku. Aku tersentak.

Perasaan malu dan takut bercampur dalam diriku. “Abah, saya ada hal penting nak cakap dengan abah, harap abah tak marah”.

Abah menjadi serius tapi bahasanya lembut. “Apa perkaranya Nurul, insya’ Allah s.w.t. abah tidak akan marah.” Abah memang sangat lembut hatinya, sangat beruntung aku dikurniakan ayah sebaik abah.

“Abah pernah terfikir tak untuk carikan jodoh saya? Aku tergelak sedikit, perbincangan penting seolah-olah aku jadikan gurauan.

Abah tersentak. “Tidak pernah terfikir pula abah, kenapa? Nurul dah ada seseorang yang berkenan di hati ke? Sungguh beruntunglah sesiapa yang dapat anak abah yang seorang ni”. Itulah jawapan abah sambil menambah keceriaan dalam perbincangan yang aku kira akan menjadi sangat serius nanti.

“Sampai hati abah cakap Nurul sudah ada seseorang”. Kataku merajuk melayan gurauan abah.

“Tetapi Nurul sudah cakap tentang hal ni, mesti sudah ada yang mendorong bukan? Salah satu yang mendorong Nurul untuk bincang hal ini sebab sudah ada seseorang yang berkenan di hati bukan?” Abah mengagak, jelas hal itu mungkin benar, abah memang berpengalaman.

Kadang-kadang aku hairan, tindak balas abah sangat baik tentang ni. Mungkin abah sudah lama mengidamkan menantu atau mungkin sekali abah sudah teringin untuk menimang cucu. Hatiku girang.

Aku panggil abah secara halus meminta perhatian, aku mula menjadi serius. “abah.”

Sambil gementar aku berkata kepada abah. “Abah setuju atau tidak seandainya saya minta abah mencarikan jodoh untuk saya?”

Aku menunggu tindak balas abah dalam keadaan gementar sekali.

Tanya abah dengan serius untuk kepastian dan nampak dahinya bertambah kerutnya. “Betulkah apa yang Nurul katakan ini?”

Aku terdiam, suasana menjadi sunyi buat seketika, abah sedang memerhatikan gelagatku. Pandangan aku berkeliaran tidak tentu arah mencari idea barangkali.

“Nurul?” terjah abahku dengan lembut.

Aku tidak mampu menjawab dengan kata-kata, aku hanya menganggukkan kepala dengan hati yang cukup gementar.

“Betulkah apa yang Nurul katakan ini… kalau betul, abah boleh usahakan”. Kata abah memberi petanda baik.

Aku memberanikan diri untuk bersuara kembali.

Aku berkata sambil memandang mata abah. “Abah, boleh atau tidak kalau saya yang pilih bakal pemimpin saya?”

“Bukan tadi Nurul yang suruh abah untuk carikan? Sekarang mahu pilih sendiri pula? Cuba Nurul cerita betul-betul dengan abah, biar abah dengar” ujar ayahku dengan lembut tapi serius mengharap penjelasan sebenar.

“Abah, kalau saya sudah nampak seseorang yang boleh memimpin saya, menjaga saya, mendidik saya, dan sesuai dengan saya, abah setuju atau tidak untuk mendekati pemuda tu?”

“Maksudnya, abahlah yang perlu cari pemuda yang Nurul maksudkan itu dan berbincang dengan dia dan keluarga di tentang hal ini?” Kata abah memahami maksud aku namun ingin kepastian lagi.

Aku menundukkan kepala kemudian mengangguk perlahan tanda isyarat “betul” semua persoalan abah. Aku tidak mampu memandang wajah abah. Gementar rasanya walaupun abah menerima baik hal ini.

“Nurul, kalau Nurul benar-benar yakin dia orang yang mampu memimpin Nurul dengan baik nanti, apa salahnya jika abah lakukan usaha “itu”? Malah memang tanggungjawab abah sebagai wali untuk menjodohkan anak abah ini.” Jelas abah tanda setuju.

“tapi abah”

ALLAH S.W.T. AKAN MEMBANTU HAMBANYA YANG BENAR-BENAR MENCARI KEREDHAANNYA. LAKUKANNYA KERANA ALLAH S.W.T., KEBAHAGIAAN HIDUP PASTI ADA, PASTI DAPAT DIALAMI ANDAI USAHA KUAT DILAKUKAN TANPA HENTI. CINTAILAH PERKARA YANG BOLEH MENDATANGKAN CINTA KEPADA ALLAH S.W.T.


Wednesday, August 19, 2009

Sajak Buat Kamu..

Salam 52 tahun kemerdekaan..

Saya suka sekali mendengar sajak ini.. bukan kerna siapa penulisnya tetapi isinya..



Perjuangan bangsa juga untuk agama.. kerana siapakah Melayu itu? Dia lazimnya beragama Islam..bertutur dalam bahasa melayu dan mengamalkan budaya Melayu..(jawapan skema).. Islam agama buat semua..ye, betul! Namun siapakah juga yang majoritinya menganut Islam di bumi Malaysia ini? Sekali lagi, Melayu! Jadi siapakah yang perlu menjaga maruah agama dan sekaligus bangsanya agar generasi akan datang juga turut mempertahankan agamanya.. sekali lagi, Melayu! Saya tidak menolak kepentingan agama yang perlu diutamakan, didahulukan.. jadilah nasionalist yang islamik..

Cukup sekadar ini..